Nah setelah sampai, kita disambut oleh 2 naga sebagai gerbangnya. Cuaca panas menyengat khas pantai, tapi excited juga setelah bermobil beberapa jam. Konon Vihara ini dibangun oleh Biksuni dari Thailand yang mendapatkan mimpi untuk membangun Vihara diatas bukit. Setelah mencari beberapa lokasi, ditemukan tempat ini yang sesuai dengan mimpi beliau.
Jalan menuju ke atas dibuat berundak sehingga tidak terlalu terasa ketinggiannya. Jadi komposisinya ada tangga, lalu node tempat istirahat, lalu tangga lagi, lalu node tempat doa, dan seterusnya sampai puncak. Kita seperti jalan menyusuri cerita demi cerita, spot demi spot yang masing2 memiliki karakter berbeda.
Di Vihara ini cukup beragam yang ditampilkan dan didoakan, kami agak kaget juga karena unik sekali. Ada Budhha, ada Bunda Maria, ada Nyi Roro Kidul, ada Prabu Siliwangi, dan lain lainnya. Mungkin ini adalah wujud keberagaman Indonesia yang luar biasa. Tidak seperti tempat2 yang biasa dikunjungi fokus untuk umat agama tertentu, disini agama seperti sudah berfusi dengan budaya setempat.
Vihara didesain dengan tidak terlalu mendetail, tapi mengikuti kontur natural dari tanah. Jadi teringat dengan Sendang Sono yang didesain Romo Mangun. Tapi tempat ini tidak sedetail itu. Ada beberapa rumah penduduk yang dijadikan node istirahat sekaligus wc dan tempat jualan, dilanjutkan tangga lagi ke tempat doa berikutnya.
Sequence perjalanan naik juga tidak terlalu istimewa. Kejutan demi kejutan berasal dari tema tempat doa. Unik juga melihat naga, lalu mengalami tempat doa Buddha, lalu ada Bunda Maria, lalu bertemu juga dengan padepokan yang berisi gambar Prabu Siliwangi, dan tentu saja Nyi Roro Kidul.
Kesimpulan setelah mengalami tempat ini, boleh juga dicoba untuk dijelajah :) cukup menarik dengan keberagaman yang ada. Sayangnya seperti biasa tempat wisata di jawa barat. Tempat ini juga tidak terolah dengan baik, jalanan rusak, dan seakan dibiarkan hidup dari komunitas Vihara ini saja.